Jumat, 18 Oktober 2013

Hacker Indonesia

Trisno Heriyanto - detikinet

http://images.detik.com/content/2013/10/18/323/zombie4.jpg Ilustrasi (ist)
Jakarta - Indonesia diklaim Akamai Technology sebagai sumber serangan cyber dunia. Tapi ternyata para pelakunya belum tentu adalah warna negara Indonesia.

laporannya, Akamai juga menuliskan bahwa serangan tersebut belum tentu berasal dari Indonesia, tapi bisa jadi para pelaku dari negara lain yang hanya mendompleng alamat IP dalam negeri.

Senada dengan Akamai. Alfons Tanujaya, praktisi keamanan internet dari Vaksincom juga merasa serangan itu bukan dilakukan oleh peretas lokal, tapi para dedemit maya yang berada di luar sana.

"Mereka menggunakan bot yang melakukan scaning ke seluruh dunia untuk menemukan bug tertentu. Jika sudah didapat, komputer tersebut akan dijadikan 'zombie' untuk kemudian dikendalikan," jelas Alfons, kepada detikINET, Jumat (18/10/2013).

Lebih lanjut Alfons menjelaskan bahwa hal itu bisa terjadi karena kurang pedulinya para pengguna komputer terhadap keamanan di internet. Tak sedikit dari mereka yang mengunjungi situs-situs dengan berbagai jebakan di dalamnya.

Kondisi itu diperparah oleh para pengelola IP publik di Tanah Air yang dianggap tidak becus memelihara keamanan jaringan mereka.

"Mereka yang mengelola harusnya sadar, dan bisa mengambil langkah-langkah untuk mengamankan server mereka. Harusnya mereka malu dengan kejadian ini," tegas Alfons

Menurut data Akamai, dibanding kuartal pertama 2013, kuartal kedua 2013 ini jumlah serangan yang berasal dari Indonesia meningkat hingga dua kali lipat.

Berdasarkan laporan keamanan tersebut, Indonesia kini mengantongi porsi terbesar serangan dengan perolehan 38%, naik 17% dari periode sebelumnya. Sedangkan China, yang sebelumnya mendominasi, kini hanya memiliki porsi 33%.





Indonesia Juara ke-3 Kompetisi Hacking Dunia

Ardhi Suryadhi - detikinet

http://images.detik.com/content/2013/10/18/323/slider460.jpg (hitb.org)
Jakarta - Para jagoan IT Indonesia kembali unjuk gigi di event dunia. Indonesia yang diwakili oleh tim Rentjong meraih juara ke-3 dalam kompetisi hacking Capture The Flag (CTF) di Kuala Lumpur, Malaysia.

CTF merupakan bagian dari konferensi tahunan Hack In The Box (HITB). Sedangkan juara ke-1 dan ke-2 diraih oleh tim dari Vietnam. Selain tim Rentjong, Indonesia juga diwakili oleh tim Belalang Tempur.

Acara yang digelar 16 - 17 Oktober 2013 ini adalah kompetisi hacking internasional diikuti oleh 10 tim dari 7 negara: Korea, Jepang, Belanda, Singapura, Malaysia, Vietnam dan Indonesia.

Tim Rentjong sendiri diisi oleh penggiat-penggiat security Tanah Air: Rizki Wicaksono, Ammar WK dan Arif Dewantoro.

Menurut Rizki Wicaksono, kompetisi CTF menguji kemampuan peserta untuk memecahkan tantangan security seperti eksploitasi, reverse engineering, kriptografi, dan forensik yang dikemas dalam bentuk game attack dan defense antar tim.

"Setiap tim (terdiri dari 3 orang) mewakili satu negara yang harus dijaga dari serangan negara lain. Tiap tim akan mendapatkan senjata, firepower atau nuke yang bisa dipakai untuk menyerang tim lain bila berhasil memecahkan tantangan yang diberikan. Tim yang memiliki skor tertinggi menjadi pemenangnya," jelas Rizki kepada detikINET, Jumat (18/10/2013).

HITB sendiri adalah konferensi tahunan di bidang security yang menjadi ajang berkumpulnya security researcher dan hacker dari berbagai negara untuk mempresentasikan berbagai hasil temuan dan riset terkait cyber security.

Jumat, 30 Agustus 2013

Perusahaan Minyak Minat Beli Pesawat Tanpa Awak Made in RI

Zulfi Suhendra - detikfinance
http://images.detik.com/content/2013/08/29/1036/pesawatawak2.jpg
Jakarta - Pesawat tanpa awak hasil pengembangan Badan Pengembangan dan Penelitian Teknologi (BPPT) diminati banyak orang. Perusahaan swasta dalam negeri hingga instansi dari luar negeri meminati pesawat tersebut.

Hal tersebut dikemukakan oleh Chief Engineer BPPT, Muhammad Dahsyat kepada detikFinance di Pameran Harteknas di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Kamis (29/8/2013).

"Kalau kita pameran teknologi di Kemayoran, ada yang berminat dari luar negeri, tapi saya belum bisa menyebutkan dari mana. Instansi (bukan perorangan)," kata Dahsyat.

Dahsyat mengatakan, pesawat nirawak tersebut dibuat masih untuk memasok kebutuhan di dalam negeri, seperti yang sudah dipesan oleh TNI sebanyak 3 unit untuk keperluan surveilance (pengawasan). Pesawat ini pun belum boleh dijual untuk umum.

"Kalau dijual umum kan kita harus ada perjanjian dan persyaratan dulu termasuk pelatihannya juga," katanya.

Selain TNI, perusahaan minyak swasta di dalam negeri pun tergiur untuk memesan pesawat ini. Namun sayangnya dia tidak menyebutkan berapa harga dan siapa pemesannya tersebut.

"Oil company banyak yang minta untuk off shore, on shore. Mereka untuk mengamati kilang apakah ada permasalahan atau nggak," tutupnya.

Peluru Produksi Pindad Ada yang Mampu Menembus Tank Baja

Production bullets PINDAD "INDONESIAN"  There are Able Penetrating Steel Tank
Zulfi Suhendra - detikfinance
http://images.detik.com/content/2013/08/30/1036/cam00352.jpg
Jakarta - Indonesia sudah sejak lama mampu memproduksi senjata melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Pindad (Persero). Salah satu produk inovasi Pindad adalah peluru yang mampu menembus tank baja.

Engineer Produksi dan Desain Pindad, Budi mengungkapkan, peluru yang berjenis MU 3PB kaliber 12,7 milimeter tersebut diproduksi Pindad di Jawa Timur, daya ledaknya lebih kuat dibanding peluru yang selama ini biasa diproduksi perseroan.

"Peluru ini bisa tembus tank. Materialnya tetap alumunium dan tembaga, tapi daya ledaknya lebih besar," kata Budi kepada detikFinance di Pameran Hari Kebangkitan Teknologi Nasional di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, dikutip Jumat (30/8/2013).

Budi menjelaskan, pembuatan peluru dibedakan dari bahan peledak, ada yang hanya untuk melumpuhkan, bahkan ada yang mampu menghancurkan. Perbedaannya bisa dilihat dari warna di bagian runcing peluru yang diproduksi. Untuk peluru yang bisa menembus tank, berwarna perak di ujung bagian runcingnya.

"Kalau misalnya yang sudah tahu pasti hafal, warna merah, oh untuk ini, perak untuk ini," katanya.

Dikatakan Budi, peluru tersebut digunakan khusus untuk senjata laras panjang berjenis sniper yang diproduksi oleh PT Pindad. Sniper tersebut memiliki jangkauan tembak hingga 1,8 kilometer.

"Biasanya untuk ditaruh di helikopter," katanya.

Namun, dia belum bisa menyebutkan, siapa yang sudah memesan baik peluru atau senjata canggih made in Bandung tersebut.